October 10, 2007

On The Winning Side

READ: Colossians 2:6-15
Having disarmed principalities and powers, He made a public spectacle of them, triumphing over them. -Colossians 2:15

Few today believe the pagan idea that the world is under the control of warring gods like Artemis, Pan, and Apollo. Yet even sophisticated skeptics readily acknowledge the reality of "forces" over which we have no control. For example, they attribute our inability to prevent violence in various places around the world to what they vaguely call "international forces." And they speak of "economic forces" beyond our control. For example, millions of people are starving despite the fact that there is more than enough food in the world to provide for every person on the earth.
The Bible clearly acknowledges the presence of invisible but very real spiritual beings, or powers. In Ephesians 6:11-12, Paul declared that our primary warfare is against an army of rebellious angels headed by Satan. The bad news is that they are more intelligent and powerful than we are. The good news is that Jesus defeated them by His death on the cross: "Having disarmed principalities and powers, He made a public spectacle of them, triumphing over them" (Col. 2:15).
There are many things beyond our control, but we need not fear. We who have placed our trust in Jesus are on the winning side. —Herbert Vander Lugt

Satan may win some battles, but he cannot win the war.
------------------------------------------
Di Pihak Yang Menang
Baca: Kolose 2:6-15
Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka. —Kolose 2:15
Saat ini hanya sedikit orang yang percaya pada pemikiran para penyembah berhala yaitu bahwa dunia berada di bawah kekuasaan para dewa perang seperti Artemis, Pan, dan Apollo. Namun bahkan orang skeptis yang berpengetahuan luas juga mengakui tanpa ragu-ragu adanya suatu "kekuatan-kekuatan" yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Contohnya, mereka menyebutkan secara samar-samar bahwa ketidakmampuan kita untuk mencegah kekerasan di berbagai tempat di dunia adalah pengaruh dari suatu "kekuatan internasional". Para skeptis itu juga berbicara tentang suatu "kekuatan ekonomi" di luar kendali kita. Misalnya, jutaan manusia menderita kelaparan, meskipun kenyataannya di dunia ini tersedia makanan yang lebih dari cukup untuk setiap orang yang ada di atas bumi.
Alkitab dengan jelas mengakui keberadaan roh-roh atau penguasa yang meskipun tidak terlihat tetapi sangat nyata keberadaannya. Dalam Efesus 6:11-12, Paulus menyatakan bahwa peperangan utama kita adalah melawan suatu pasukan malaikat yang telah memberontak dan dipimpin oleh Iblis. Kabar buruknya adalah bahwa mereka lebih intelek dan berkuasa daripada kita. Kabar baiknya adalah bahwa Yesus telah mengalahkan mereka melalui kematian-Nya di kayu salib: "Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya" (Kol. 2:15).
Ada banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan, tetapi kita tidak perlu takut. Kita yang telah menaruh kepercayaan kita kepada Yesus berada di pihak yang menang. —HVL

Iblis mungkin memenangi beberapa pertempuran, tetapi ia tidak dapat memenangi perangnya.
------------------------------------------
*Taken from RBC Asia

October 9, 2007

Storytime
READ: Joshua 2:1-14
The Lord your God, He is God in heaven above and on earth beneath. —Joshua 2:11

Did you ever wonder why Rahab, the prostitute who lived in the pagan city of Jericho, opened her home to the Israelite spies? And what gave her the courage to name the God of Israel as her own?
This unlikeliest of conversions was prompted by the stories she had heard about the reality and power of God. Though thoroughly steeped in paganism and immorality, her heart was drawn to God. As she told the spies, "We have heard how the Lord dried up the water of the Red Sea for you when you came out of Egypt, and what you did to the two kings of the Amorites" (Josh. 2:10).
Under normal circumstances, the highly fortified city of Jericho would have been virtually unconquerable. Yet it became vulnerable because of the compelling stories of God’s power. Long before God’s people arrived, the self-sufficient pride of this hostile culture dissolved in fear when faced with those who belonged to the God they had heard so much about (v.11). And within the walls, one pagan heart turned to receive the God of Israel and played a strategic role in Israel’s stunning victory.
Let’s boldly tell the stories of God’s greatness. You never know whose heart may be ready to respond! —Joe Stowell

Don’t be shy; tell the stories of God’s greatness.
------------------------------------------
Waktunya Bercerita
Baca: Yosua 2:1-14
Sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah. —Yosua 2:11
Apakah Anda pernah merasa ingin tahu mengapa Rahab, perempuan sundal yang tinggal di kota penyembah berhala, Yerikho, bersedia menerima mata-mata orang Israel di rumahnya? Apa yang membuat dirinya berani menyatakan Allah orang Israel sebagai Allahnya?
Pertobatan yang kelihatannya hampir mustahil terjadi itu disebabkan oleh cerita-cerita yang telah didengar Rahab tentang realitas dan kuasa Allah. Meskipun tinggal di lingkungan yang masyarakatnya menyembah berhala dan tidak berakhlak, hati Rahab telah tertarik pada Allah. Sebagaimana ucapan yang ia ungkapkan kepada mata-mata itu, "Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori . . . ." (Yos. 2:10).
Dalam keadaan normal, kota Yerikho yang pertahanannya sangat kuat nyaris tidak mungkin ditaklukkan. Namun, kota itu menjadi mudah diserang karena cerita-cerita dahsyat mengenai kuasa Allah. Jauh sebelum umat Allah datang, keangkuhan dari kebudayaan yang tidak ramah ini larut dalam ketakutan ketika mereka berhadapan dengan orang-orang yang memiliki Allah seperti yang sudah sering mereka dengar kehebatan-Nya (ay.11). Di balik tembok Yerikho, hati seorang penyembah berhala diubahkan untuk menerima Allah orang Israel dan memegang peran penting dalam kemenangan Israel yang maha besar.
Marilah kita menceritakan dengan terus terang kisah-kisah tentang kebesaran Allah. Siapa tahu ada hati yang memang telah siap menanggapinya. —JMS
Janganlah malu; ceritakanlah kisah tentang kebesaran Allah.
------------------------------------------
*Taken from RBC Asia

October 8, 2007

Be Coachable!

Read: Philippians 4:10-19
I have learned in whatever state I am, to be content. —Philippians 4:11

Casey Seymour, a successful soccer player and coach, notes that everyone on his team hates the 10-by-100 drill that ends practice. Before the men can leave the field, they must run 100 yards 10 times at full speed with minimal rest. If they don’t beat a prescribed time, they have to do it again.
The players hate it—until the day of the game. Then they find that they can play at full capacity for the entire match. Their effort has been rewarded with a championship!
The apostle Paul used metaphors of training and competition in his letters. While he was a missionary to the Gentiles, he submitted to the instructions and drills of God amid great suffering and hardship. Twice in Philippians 4, he said, "I have learned" (vv.11-12). For him, and for each of us, following Jesus is a lifelong learning process. We are not spiritually mature the day we are saved, any more than a schoolboy athlete is ready for professional soccer. We grow in faith as we allow God through His Word and the Holy Spirit to empower us to serve Him.
Through hardship, Paul learned to serve God well—and so can we. It’s not pleasant, but it is rewarding! The more teachable we are, the more mature we will become. As members of Christ’s team, let’s be coachable. —David C. Egner

God’s work in us isn’t over when we receive Christ—it has just begun.
------------------------------------------
Bersedialah Untuk Dilatih
Baca: Filipi 4:10-19
Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. -Filipi 4:11
Casey Seymour, pemain dan pelatih sepak bola yang sukses, memerhatikan bahwa setiap anggota timnya membenci aktivitas yang mengakhiri setiap pelatihan. Sebelum meninggalkan lapangan, mereka harus berlari dengan kecepatan penuh tanpa istirahat sejauh 100 yards (+91 m) sebanyak 10 kali. Jika waktu tempuh mereka melebihi batas waktu yang telah ditentukan, mereka harus mengulanginya.
Para pemain membenci latihan penutup tersebut—hingga tiba saat bertanding. Kemudian barulah mereka menyadari bahwa mereka dapat bermain dengan kapasitas penuh sepanjang pertandingan. Usaha mereka telah membuahkan hasil sebagai juara!
Rasul Paulus memakai metafora mengenai latihan dan perlombaan di surat-suratnya. Ketika melayani orang-orang bukan Yahudi, ia taat pada perintah dan latihan yang diberikan oleh Allah di tengah-tengah penderitaan dan kesulitan besar yang dialaminya. Di Filipi 4, Paulus mengatakan, "Aku telah belajar" (ay.11-12). Bagi Paulus, dan setiap orang percaya, mengikut Yesus adalah suatu proses belajar seumur hidup. Kita tidaklah dewasa secara rohani pada waktu kita diselamatkan, sama seperti atlit pelajar yang belum siap menjadi pemain sepak bola profesional. Kita bertumbuh dalam iman ketika kita mengizinkan Allah, melalui firman-Nya dan Roh Kudus, untuk memampukan kita guna melayani-Nya.
Melalui penderitaan, Paulus belajar melayani Allah dengan baik-dan kita juga dapat melakukannya. Tidaklah menyenangkan, tetapi ada upahnya! Makin mudah kita diajar, makin dewasalah kita. Sebagai anggota tim Kristus, biarlah kita bersedia untuk dilatih. -DCE
Pekerjaan Allah belumlah selesai ketika kita menerima Kristus-sebaliknya,
pekerjaan-Nya barulah dimulai.
------------------------------------------

October 6, 2007

Crushing Responsibilities

Read: Nehemiah 4:1-14
Do not be afraid of them. Remember the Lord, great and awesome. -Nehemiah 4:14

While the outcome of the Second World War was still uncertain, Franklin Roosevelt died and Harry Truman was sworn in as the next president of the United States. The following day, President Truman told reporters, "When they told me yesterday what had happened, I felt like the moon, the stars, and all the planets had fallen on me." Certainly Truman faced crushing responsibilities.
Nehemiah was a great leader who also faced overwhelming burdens. Accompanied by Jewish exiles who had returned from Babylon, Nehemiah was given the task of rebuilding the walls of Jerusalem. Amid terrible opposition, he refused to be intimidated by the jeers and threats of the enemy. Instead, the man of God organized a dual strategy of construction and military defense-bathing their efforts in prayer: "We made our prayer to our God, and because of them we set a watch against them day and night" (Neh. 4:9). Nehemiah addressed the ongoing threats the workers faced by getting their focus back on God: "Do not be afraid of them. Remember the Lord, great and awesome" (v.14).
Are you facing crushing responsibilities today? Praying for God’s help and putting together a practical plan can give you strength to complete the task. -
Dennis Fisher

God invites us to burden Him with what burdens us.
-------------------------------------------------
*Taken from RBC ministries asia

October 5, 2007

No Excuses

Read: Romans 10:1-13
Whoever calls on the name of the Lord shall be saved. —Romans 10:13
People have many different reasons for rejecting the gospel. A common one is to blame Christians for something they did or did not do. These critics say, "I know a Christian who treated me poorly." Or, "I went to church, and no one talked to me."
Indeed, Christians aren’t perfect, and many can be bad examples. But blaming others doesn’t remove one’s accountability to God.
The truth of the gospel does not depend on the way others live out their faith. Salvation is about Jesus alone. Romans 10:9 says, "If you confess with your mouth the Lord Jesus and believe in your heart that God has raised Him from the dead, you will be saved."
Some people may use Christians as an excuse to reject the gospel. But they certainly can’t point a finger of blame at Jesus. He is sinless and perfect in every way. Pilate said of Him, "I have found no fault in this Man" (Luke 23:14). And Jesus did what no one else could do—He suffered death on a cross to provide salvation for all who believe in Him. That makes it tough for someone to say, "I’m not going to become a Christian because I don’t like what Jesus did."
Don’t get sidetracked by looking at the faults of others. Look to Jesus. He alone is the way to heaven.
-Dave Branon
There is no excuse for saying "No" to Christ
-------------------------------------------------
Tidak Ada Alasan
Baca: Roma 10:1-13
Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. —Roma 10:13
Orang-orang punya banyak alasan berbeda untuk menolak Injil. Salah satu alasan umum adalah menyalahkan orang Kristen atas sesuatu yang dilakukan atau yang tidak dilakukannya. Mereka berkata, "Saya kenal orang Kristen yang memperlakukan saya dengan tidak baik." Atau, "Saya ke gereja, tetapi tak seorang pun menyapa saya."
Memang benar, orang Kristen tidaklah sempurna dan banyak di antaranya bukanlah contoh yang baik. Namun, menyalahkan orang lain tidak berarti menghapus tanggung jawab seseorang terhadap Allah.
Kebenaran Injil tidak tergantung pada cara orang lain menerapkan imannya. Keselamatan sepenuhnya mengenai Yesus. Roma 10:9 berkata, "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan."
Beberapa orang mungkin menjadikan orang Kristen sebagai alasan untuk menolak Injil. Namun, tentulah mereka tidak dapat menyalahkan Yesus. Ia tidak berdosa dan sempurna dalam segala hal. Mengenai Yesus, Pilatus berkata, ". . . dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya" (Luk. 23:14). Yesus melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan orang lain—Ia mati di kayu salib untuk menyediakan keselamatan kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Oleh karena itu, sulit bagi seseorang untuk berkata, "Saya tidak akan menjadi orang Kristen karena saya tidak menyukai apa yang Yesus lakukan."
Janganlah menyimpang karena melihat kesalahan orang lain. Pandanglah Yesus. Hanya Ia satu-satunya jalan ke surga. —JDB
Tidak ada alasan untuk mengatakan "Tidak" kepada Kristus
-------------------------------------------------
*Taken from RBC ministries asia

October 4, 2007

Changing History
Read: Luke 2:1-14
There is born to you this day in the city of David a Savior, who is Christ the Lord. -Luke 2:11
Today when we can make international cell-phone calls, send worldwide e-mail, and download images from space on our computers, it’s difficult to imagine the impact of one small satellite the size of a basketball. But on October 4, 1957, the Soviet Union’s launching of Sputnik I, the world’s first artificial satellite, ushered in the modern Space Age and changed the course of history. Nations rushed to catch up, technological development accelerated, and fear alternated with hope about the meaning of it all for humanity.
But events that alter the present and the future sometimes occur in obscurity. That was true of the birth of Jesus—just one baby, born to an ordinary couple in a small town. But it changed the course of history. The words of an angel spoken to shepherds began to spread: "There is born to you this day in the city of David a Savior, who is Christ the Lord" (Luke 2:11). Nineteen centuries later, Phillips Brooks wrote of Bethlehem, "The hopes and fears of all the years are met in thee tonight."
When we open our lives to Christ the Lord and acknowledge Him as our Savior, the course of our future history is changed for time and eternity. These "good tidings of great joy" (v.10) are for everyone, everywhere. -David C. McCasland
The hinge of history is found on the door of a Bethlehem stable.
-------------------------------------------------
Mengubah Sejarah
Baca: Lukas 2:1-14
Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. -Lukas 2:11
Di masa kini, ketika kita dapat melakukan percakapan internasional dengan telepon genggam, mengirim e-mail ke seluruh dunia, dan mengunduh (download) gambar dari ruang angkasa ke komputer, sangatlah sulit bagi kita untuk membayangkan dampak dari sebuah satelit yang ukurannya sebesar bola basket. Namun pada tanggal 4 Oktober 1957, saat Uni Soviet meluncurkan Sputnik I, satelit perdana buatan manusia, kita dihantar untuk memasuki Zaman Ruang Angkasa modern dan peristiwa ini pun mengubah perjalanan sejarah. Bangsa-bangsa kemudian berlomba-lomba mengikutinya, pengembangan teknologi melaju dengan pesat, dan ketakutan datang silih berganti dengan harapan tentang apa dampak semua ini bagi umat manusia.
Namun, peristiwa yang mengubah masa kini dan masa yang akan datang terkadang muncul tanpa kehebohan. Hal ini sungguh terjadi pada saat kelahiran Yesus-hanya seorang bayi, lahir dari pasangan yang sederhana di sebuah kota kecil. Akan tetapi kelahiran-Nya mengubah perjalanan sejarah. Kata-kata seorang malaikat kepada kawanan gembala mulai tersiar: "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud" (Luk. 2:11). Sembilan belas abad kemudian, Phillips Brooks menulis tentang Betlehem, "Harapan dan kekhawatiran yang ada selama bertahun-tahun telah terjawab dalam suatu malam di Betlehem."
Ketika kita membuka kehidupan kita kepada Kristus Tuhan dan menerima-Nya sebagai Juru Selamat, perjalanan masa depan kita diubahkan untuk saat ini dan sampai selamanya. "Kesukaan besar" (ay.10) ini adalah untuk semua orang di seluruh dunia. -DCM
Sendi sejarah dimulai dari sebuah pintu kandang di Betlehem.
-------------------------------------------------

*Taken from RBC ministries asia

October 3, 2007

Cracked Lenses

Read : Psalm 141

My eyes are upon You, O God the Lord; in You I take refuge; do not leave my soul destitute. -Psalm 141:8

I started wearing glasses when I was 10 years old. They are still a necessity because my 50-something eyes are losing their battle against time. When I was younger, I thought glasses were a nuisance—especially when playing sports. Once, the lenses of my glasses got cracked while I was playing softball. It took several weeks to get them replaced. In the meantime, I saw everything in a skewed and distorted way.
In life, pain often functions like cracked lenses. It creates within us a conflict between what we experience and what we believe. Pain can give us a badly distorted perspective on life—and on God. In those times, we need our God to provide us with new lenses to help us see clearly again. That clarity of sight usually begins when we turn our eyes upon the Lord. The psalmist encouraged us to do this: "My eyes are upon You, O God the Lord; in You I take refuge; do not leave my soul destitute" (141:8). Seeing God clearly can help us see life’s experiences more clearly.
As we turn our eyes to the Lord in times of pain and struggle, we will experience His comfort and hope in our daily lives. He will help us to see everything clearly again. -Bill Crowder

Focusing on Christ puts everything in perspective.

-------------------------------------------------

Lensa Kacamata Yang Retak

Baca: Mazmur 141

Tetapi kepada-Mulah, ya ALLAH, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku! —Mazmur 141:8

Saya mulai memakai kacamata ketika saya berumur 10 tahun. Saya tetap membutuhkan kacamata sampai sekarang karena mata saya yang berumur 50 tahun lebih ini mulai melemah seiring berjalannya waktu. Saat muda, saya merasa kacamata sangatlah mengganggu—terutama ketika sedang berolah raga. Suatu hari, lensa kacamata saya retak ketika saya sedang bermain softball. Perlu waktu beberapa minggu untuk membuat lensa baru. Selama menunggu selesainya pembuatan lensa baru, saya melihat segala sesuatu dalam bentuk yang tidak jelas dan tidak karuan.
Di dalam hidup, rasa sakit sering kali berfungsi seperti lensa kacamata yang retak. Rasa sakit menimbulkan konflik batin antara apa yang kita alami dan apa yang kita yakini. Rasa sakit itu dapat memberikan perspektif yang tidak benar tentang hidup—dan tentang Allah. Selama mengalami masa-masa tersebut, kita membutuhkan Allah untuk memberikan lensa baru yang membantu kita agar dapat melihat lagi dengan lebih jelas. Pandangan kita biasanya menjadi jelas ketika kita mengarahkan mata kita kepada Allah. Pemazmur menganjurkan kita untuk melakukannya, "Tetapi kepada-Mulah, ya ALLAH, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku!" (141:8). Melihat Allah dengan jelas dapat membantu kita melihat lebih jelas lagi pengalaman-pengalaman hidup kita.
Ketika kita memandang kepada Allah pada waktu mengalami sakit dan pergumulan, kita akan mengalami penghiburan dan pengharapan-Nya di dalam kehidupan kita sehari-hari. Ia akan membantu kita melihat segala sesuatunya dengan jelas lagi. -WEC

Dengan berfokus kepada Kristus, kita memandang segala sesuatu dengan perspektif yang benar.

-------------------------------------------------

*Taken from RBC ministries asia

October 2, 2007

Is Jesus Exclusive?
Read : John 14:1-12
Jesus said . . . , “I am the way, the truth, and the life. No one comes to the Father except through Me.”
-John 14:6
I once saw Billy Graham’s daughter Anne Graham Lotz on a popular news talk program. The interviewer asked, “Are you one of those who believe that Jesus is exclusively the only way to heaven?” He added, “You know how mad that makes people these days!” Without blinking she replied, “Jesus is not exclusive. He died so that anyone could come to Him for salvation.”
What a great response! Christianity is not an exclusive club limited to an elite few who fit the perfect profile. Everyone is welcome regardless of color, class, or clout.
In spite of this wonderful reality, Christ’s claim in John 14:6 to be the only way to God continues to offend. Yet Jesus is the only way-the only option that works. All of us are guilty before God. We are sinners and cannot help ourselves. Our sin had to be dealt with. Jesus, as God in the flesh, died to pay the penalty for our sins and then rose from the dead. No other religious leader offers what Jesus provides in His victory over sin and death.
The gospel of Christ is offensive to some, but it is the wonderful truth that God loves us enough to come and take care of our biggest problem-sin. And as long as sin is the problem, the world needs Jesus! -Joe Stowell
Embrace the good news: Jesus is a non-exclusive Savior.
-------------------------------------------------
Apakah Yesus Eksklusif?
Baca : Yohanes 14:1-12
Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." -Yohanes 14:6
Suatu kali saya melihat Anne Graham Lotz, putri Billy Graham, di sebuah acara bincang-bincang yang populer. Si pembawa acara bertanya, "Apakah Anda salah satu dari orang-orang yang percaya bahwa Yesus secara eksklusif adalah satu-satunya jalan ke surga?" Ia menambahkan, "Anda tahu betapa marahnya orang-orang zaman sekarang mendengar pernyataan seperti itu." Tanpa berkedip Anne menjawab, "Yesus tidaklah eksklusif. Ia mati supaya siapa pun dapat datang kepada-Nya untuk diselamatkan."
Sungguh jawaban yang hebat! Kekristenan bukanlah perkumpulan eksklusif yang terbatas bagi kalangan elit berkriteria sempurna. Tiap orang pasti diterima—tanpa membedakan warna kulit, golongan, atau kekuasaan.
Meskipun kenyataan ini sangat indah, pernyataan Kristus dalam Yohanes 14:6 bahwa Ialah satu satunya jalan kepada Allah, tetap membuat orang tersinggung. Namun, Yesus tetap satu-satunya jalan—satu-satunya pilihan yang benar. Kita semua berdosa di hadapan Allah. Kita adalah orang berdosa dan tidak dapat menolong diri kita sendiri. Dosa harus diatasi. Yesus, sebagai Allah yang menjadi daging, mati untuk membayar upah dosa kita, lalu bangkit dari kematian. Tidak ada pemimpin agama lain mampu memberikan seperti yang Yesus sediakan dalam kemenangan-Nya atas dosa dan maut.
Injil Kristus menyinggung perasaan beberapa orang, tetapi itulah kebenaran indah yang menyatakan bahwa Allah begitu mengasihi kita hingga bersedia datang ke dunia dan menangani masalah terbesar kita—dosa. Selama dosa masih menjadi sumber masalah, dunia membutuhkan Yesus! -JMS
Terimalah kabar baik: Yesus adalah Juru Selamat yang tidak eksklusif.
-------------------------------------------------
*Taken from RBC ministries asia

October 1, 2007

Sing!
Read: 1 Chronicles 16:23-27
Sing psalms to Him; talk of all His wondrous works! -1 Chronicles 16:9
Our home in Boise is next to a park where I walk most mornings. An elderly woman walks there at the same time. She walks clockwise and I walk counter-clockwise, which means that we meet twice each lap.
She has the most lovely, crinkly eyes and wrinkled face that wrinkles even more when she smiles. When she smiles, her whole face smiles!
She has Alzheimer’s.
The first time we meet she asks, “Have I sung my song?” I say, “No, ma’am.” And she sings a little song about the sun: “Good morning, Mr. Sunshine . . .” Then she smiles, raises her hands in a kind of blessing, and moves on.
So we go our separate ways—180 degrees around the circle—until we meet again. She asks, “Have I sung my song?” I say, “Sing it again!” And she does. I can’t get her delightful song out of my mind.
She has become a parable of the kind of person I want to be—making my way through the world, singing and making melody in my heart, singing of the Sun of Righteousness who has risen with healing in His wings (Mal. 4:2), leaving behind a lingering memory of His love.
May His song be on your heart and lips this day. And may many hear and put their trust in the Lord. -
David H. Roper.
A song in your heart puts a smile on your face.
-------------------------------------------------
Bernyanyilah!
Baca: 1 Tawarikh 16:23-27
Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! —1 Tawarikh 16:9
Rumah kami di Boise bersebelahan dengan sebuah taman. Hampir setiap pagi saya berjalan-jalan di taman itu. Di waktu yang sama, seorang wanita tua juga berjalan-jalan di taman tersebut. Ia berjalan searah jarum jam sedangkan saya sebaliknya, sehingga kami bertemu dua kali setiap putaran.
Wanita tua itu memiliki kerut mata dan wajah keriput yang paling menyenangkan. Wajah itu akan tambah berkeriput bila ia tersenyum. Ketika ia tersenyum, seluruh wajahnya ikut tersenyum!
Ia menderita penyakit Alzheimer.
Saat berpapasan pertama kali, ia bertanya, "Apakah saya sudah menyanyikan lagu saya?" Saya menjawab, "Belum, Bu." Dan ia melantunkan sebuah lagu pendek tentang matahari: "Selamat Pagi, Sang Surya . . ." Kemudian ia tersenyum, mengangkat tangannya seperti memberi berkat, dan meneruskan perjalanan.
Kami berpisah—180 derajat memutari separuh taman—sampai kami bertemu kembali. Ia bertanya, "Sudahkah saya menyanyikan lagu saya?" Saya menjawab, "Nyanyikanlah lagi!" Dan ia pun mendendangkannya. Lagu yang sangat ceria itu terngiang terus di telinga saya.
Wanita tua itu menjadi contoh yang ingin saya tiru—menjalani hidup di dunia ini, menyanyi dan bersenandung dalam hati, memuji Sang Surya Kebenaran yang telah terbit dengan kesembuhan pada sayapnya (Mal. 4:2), meninggalkan kenangan yang abadi akan kasih-Nya.
Kiranya kidung Tuhan dilantunkan di dalam hati dan melalui mulut Anda hari ini. Dan kiranya banyak orang mendengarnya dan menjadi percaya kepada Allah. -DHR
Nyanyian di hati Anda memancarkan senyuman di wajah Anda.
-------------------------------------------------
*Taken from RBC ministries asia