September 30, 2007

Don’t Row

Read Ephesians 3:14-21

That He would grant you, according to the riches of His glory, to be strengthened with might through His Spirit in the inner man. -Ephesians 3:16

During a picnic on a scorching day at a Wisconsin lake, Ole’s fiancĂ©e Bess said how much she would enjoy some ice cream. So the young Norwegian immigrant gladly made a 5-mile round-trip by rowboat to bring it to her. When he returned exhausted with a container of melted ice cream, Ole told himself there must be a better way. He put his mechanical mind to work, and a year later in 1907, Ole Evinrude field-tested his lightweight, detachable motor for small boats. He married Bess, and when the outboard motors went into commercial production, she wrote the advertising slogan: “Don’t Row! Throw the Oars Away!”

Ole Evinrude was not a lazy man, but he understood the limits of human power. Each day we employ machinery to accomplish the tasks of life. But we often stubbornly rely on ourselves when we’re trying to serve God. In Ephesians 3, the apostle Paul wrote of a better way: “That He would grant you, according to the riches of His glory, to be strengthened with might through His Spirit in the inner man” (v.16). Instead of self-effort, Paul urged believers to find strength in “Him who is able to do exceedingly abundantly above all that we ask or think, according to the power that works in us” (v.20).

Don’t row! Receive and use God’s power. -David C. McCasland

We can do whatever God wants us to do if we depend on His power to do it.

-------------------------------------------------

Jangan Mendayung

Baca Efesus 3:14-21

Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu. -Efesus 3:16

Saat piknik di suatu hari yang terik di danau Wisconsin, tunangan Ole yang bernama Bess mengatakan betapa ia ingin menikmati es krim. Maka pemuda imigran Norwegia itu dengan senang hati mendayung perahunya untuk menempuh perjalanan pulang-pergi sejauh ±8 km untuk membelikannya es krim. Ole pun kembali dengan penuh kepenatan setelah mendayung, tetapi es krim di dalam kontainernya telah mencair. Ole berkata pada dirinya sendiri bahwa pasti ada cara yang lebih baik. Ia mendayakan pikiran teknis yang dimilikinya, dan setahun kemudian tepatnya pada tahun 1907, Ole Evinrude melakukan uji coba sebuah mesin ringan yang dapat ditempel di perahu-perahu kecil. Ole pun menikah dengan Bess, dan ketika mesin tempel itu diproduksi secara komersial, Bess menulis slogan iklannya: "Jangan mendayung! Buanglah dayung itu jauh-jauh!"

Ole Evinrude bukanlah sorang pria yang malas, tetapi ia sadar akan keterbatasan kekuatan manusia. Setiap hari, kita memakai peralatan bermesin untuk menyelesaikan tugas-tugas dalam hidup kita. Namun, sering kali kita dengan keras kepala bergantung pada kekuatan diri sendiri ketika kita berusaha untuk melayani Allah.
Di Efesus 3, Paulus menulis, "Supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu" (ay.16). Alih-alih dengan kekuatan sendiri, Paulus meminta orang percaya untuk mencari kekuatan dalam "Dia yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita" (ay.20).

Jangan mendayung! Terima dan gunakan kuasa Allah. -DCM

Kita dapat melakukan segala kehendak Allah jika kita bergantung kepada kuasa-Nya untuk melakukannya.

-------------------------------------------------

*Taken from RBC ministries asia


September 29, 2007

Magic-Marker Wisdom
Read Ephesians 5:8-21
The days are evil. Therefore do not be unwise. -Ephesians 5:16-17
A patient checked in to a Florida hospital for a life-saving amputation. He awoke to find that the wrong foot had been removed. In the same hospital, another patient had surgery on the wrong knee.
Defenders of the healthcare system point out that such tragic cases of malpractice are like airline crashes—they are newsworthy because they are so rare. In that Florida hospital, officials responded with a plan to avoid what could go wrong: Staffers now write “NO” with a black Magic Marker on the healthy limb.
The Bible also urges that we do more than just recognize our past wrongs; we must take decisive steps to avoid evil. Paul warned the believers in Ephesus to “have no fellowship with the unfruitful works of darkness” (Eph. 5:11). Christ has delivered us from condemnation, but we still risk temporary harm and loss because of our sinful tendencies. Our flesh still inclines us toward error and danger (Gal. 5:16-17).
But much has changed. Our relationship with God has changed. Our once hopeless future is now bright with promise. We have the opportunity to submit to His Spirit and to walk with the One who does good rather than thoughtless harm. -Mart De Haan
Wise people don’t just admit wrongs, they strive to avoid a repeat performance.
-------------------------------------------------
Pena Hitam
Baca Efesus 5:8-21
Hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh. -Efesus 5:16-17
Seorang pasien dirawat di rumah sakit Florida untuk menjalani amputasi yang akan menyelamatkan hidupnya. Setelah tersadar dari pengaruh bius, ia mendapati bahwa yang diamputasi adalah kaki yang salah. Di rumah sakit yang sama, dokter membedah lutut yang keliru dari pasien lain.
Pembela dari dinas kesehatan menjelaskan bahwa kasus tragis malpraktik itu sama seperti kecelakaan pesawat—hal itu menjadi berita hangat karena sangat jarang terjadi. Di rumah sakit Florida tersebut, staf rumah sakit menanggapinya dengan suatu rencana untuk menghindari kesalahan yang sama: Staf akan menuliskan kata "TIDAK" dengan pena hitam pada anggota badan yang sehat.
Alkitab juga mendorong kita untuk melakukan lebih dari sekadar mengenali kesalahan kita di masa lalu; kita harus mengambil langkah tegas untuk menghindari kejahatan. Paulus memperingatkan jemaat di Efesus agar "janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa" (Ef. 5:11). Kristus telah membebaskan kita dari penghukuman, tetapi kita masih memiliki risiko terluka dan mengalami kehilangan karena kecenderungan kita untuk berbuat dosa. Keinginan daging tetap cenderung membawa kita untuk melakukan kesalahan dan hal berbahaya (Gal. 5:16-17).
Banyak yang telah berubah. Hubungan kita dengan Allah juga berubah. Masa depan kita yang dulu tidak berpengharapan, kini bersinar terang oleh pengharapan. Kita memiliki kesempatan untuk tunduk pada Roh Kudus dan berjalan bersama Dia yang senantiasa melakukan yang baik dan bukan yang jahat. -MRD II
Orang bijak tidak hanya mengakui kesalahan,
tetapi juga berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan itu.
-------------------------------------------------
*Taken from RBC ministries asia

September 28, 2007

Looking Out For Others
Read Phillippians 2:3-8
Let each of you look out not only for his own interests, but also for the interests of others. -Philippians 2:4

In giving of ourselves, we manifest the essence of Jesus’ character, for it has always been His nature to think more about others than He thinks of Himself. Why else would He humble Himself and become “obedient to the point of death, even the death of the cross” (Phil. 2:8).
Our natural tendency is to consider our own interests first—to look at everything from the perspective of our own needs and wants. But with Jesus’ help we can unlearn that habit. We can begin to think of the best interests of others—their wants, their concerns, their needs.
And so we must ask ourselves: Do we consider others’ interests more important than our own? Do we get as excited about what God is doing in and through them as we do about what He is doing in and through us? Do we long to see others grow in grace and gain recognition, though it may have been our efforts that made them successful? Do we find satisfaction in seeing our spiritual children surpass us in the work they are called to do? If so, such is the measurement of greatness.
We are most like our Lord when our thoughts for ourselves are lost in our thoughts for others. There is no greater love than that (John 15:13). -David. H Roper
The more you love the Lord, the more you will love others
-------------------------------------------------
Memerhatikan Orang Lain
Baca Filipi 2:3-8
Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. -Filipi 2:4

Dalam mempersembahkan diri, kita menunjukkan inti dari karakter Yesus, karena sudah menjadi sifat-Nya untuk lebih memikirkan orang lain daripada diri-Nya sendiri. Itulah sebabnya Ia merendahkan diri-Nya sendiri dan "taat sampai mati bahkan mati di kayu salib" (Flp. 2:8).
Kecenderungan alami kita adalah selalu mendahulukan kepentingan kita sendiri—melihat segala sesuatu berdasarkan sudut pandang dari kebutuhan dan keinginan kita. Namun dengan pertolongan Yesus, kita dapat belajar meninggalkan kebiasaan tersebut. Kita dapat mulai untuk memikirkan kepentingan orang lain—keinginan, persoalan, dan kebutuhan mereka.
Dengan demikian, kita harus menanyakan pada diri sendiri: Apakah kita menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita sendiri? Apakah kita bersukacita atas apa yang Allah lakukan di dalam dan melalui diri mereka sama seperti yang Ia lakukan di dalam dan melalui diri kita? Apakah kita rindu untuk melihat orang lain bertumbuh dalam anugerah dan memperoleh pengakuan, walaupun mungkin sebenarnya usaha kitalah yang membuat mereka berhasil? Apakah kita menemukan kepuasan ketika melihat anak-anak rohani kita melebihi kita dalam pelayanan yang mereka lakukan? Kalau jawabannya ya, itulah arti kebesaran yang sesungguhnya.
Kita makin serupa dengan Tuhan ketika perhatian kita lebih tertuju kepada kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada itu (Yoh. 15:13). -DHR
Alasan terbaik untuk melakukan yang benar hari ini adalah demi hari esok.
-------------------------------------------------
*Taken from rbc ministries asia